Basis abjad Arab memiliki 28 huruf. Bahasa selain Arab yang mengadaptasi aksara Arab telah menambahi dan mengurangi beberapa huruf, seperti bahasa Kurdi, bahasa Persia, bahasa Turki Utsmaniyah, bahasa Sindhi, bahasa Urdu, bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Pashtun, dan bahasa Malayalam (dengan sistem penulisannya Arabi Malayalam), yang semuanya Jamtidur terbalik Sekarang saya UK 35weeks, udah hampir 1 bulan terakhir ini, jam tidur ko terbalik terus, siang tidur lama banget, giliran malem jam 2 pagi baru bs tidur, dan harus bangun subuh karna sholat, abis itu tidur lg nya siang. huruf jawa 20..ho no co ro ko. bagi orang jawa merupakan piyandel atau doa yang bisa di yakini jadi doa tolak balak moga vidio ini bisa bermanfa A ha ka ma. A ha ka ma na pa ra ta wa nga wha. E he ke me. E he ke me ne pe re te we nge whe. I hi ki mi. I hi ki mi ni pi ri ti wi ngi whi. O ho ko mo. O ho ko mo no po ro to wo ngo who. A e. Ho No Hana quickly gained a following in Japan, and by the early 1990s the group had claimed to have over 30,000 members. However, the group’s teachings and practices soon came under scrutiny. In 1996, the Japanese government investigated Ho No Hana for fraud and found that the group had been engaging in a number of illegal activities HO’OPONOPONO FOR SELF FORGIVENESS. To practice ho’oponopono meditation, take a few deep breaths with your eyes closed. Then, slowly repeat this mantra to yourself about 7 or 8 times. (“I’m sorry, Please forgive me, Thank you, I love you… I’m sorry, Please forgive me, Thank you, I love you“— and so on.) . Ho No Co Ro Ko – Ho no co ro ko memliki ari “ono utusaning pangeran adanya utusan tuhan“. Manusia sendiri pada dasarnya diciptakan Tuhan sama, yang mana sebagai bukti kebesaran tuhan dan nantinya bertugas untuk dapat menjaga kelestaian hidup Hamemayu Hayuning Bawono. Berikut di bawah ini mimin sajikan pengertian dan maksud lengkap dari arti huruf-huruf Jawa yang jumlahnya ada 20 buah huruf di bawah ini Ho No Co Ro Ko. Do To So Wo Lo. Po Dho Jo Yo Nyo. Mo Go Bo Tho Ngo. 1. Makna Ho No Co Ro Ko. Huruf-huruf di atas memiIiki arti ono utusan dalam bahasa jawanya sob, dan dalam bahasa indonesianya memiliki arti ada utusan Tuhan. Adapun makna dari kumpulan huruf-huruf tersebut ialah, setiap manusia haruslah merasa bahwa dirinya ialah utusan dari yg maha kuasa Allat SWT, sebagai Khalifah Fil Ardhi/menjadi khalifah di muka bumi ini. 2. Makna Do To So Wo Lo. Kumpulan huruf di atas memiliki arti, data utwo anane bedo-bedo dalam bahasa jawanya sob. Namun dalam bahasa Indonesia memilki arti beda-beda, antara orang yang satu dengan orang yg lain. Adapun maksud dari kumpulan huruf tersebut terbagi dua antara lain Kemampuan yang tidak sama. Orang yang sama tapi beda datanya. Contoh yang tepat menggambarkan maksud dari makna satu ini ialah, bila dahulunya orang jepang bertubuh pendek, sekarang malah memiliki tubuh yang tinggi. Dan bila dahulunya wanita berdandan dan mengenakan sewek atau jarik, sekarang sudah memakai celana. 3. Makna Po Do Jo Yo Nyo. Kumpulan huruf-huruf di atas memilki pengertian, senajan kahanane bedo-bedo nanging podho joyone dalam bahasa jawanya. Namun dalam bahasa indonesia memiliki arti dan maksud ialah meskipun beda keahalian atau pekerjaan namun semua bisa sahaja berjaya. 4. Makna Mo Go Bo Tho Ngo. Adapun kumpulan huruf di atas memiliki pengertian, mongo sak kerso dalam bahasa jawanya. Dan dalam bahasa Indonesianya memiliki arti terserah mana yg bakal dilakukan, tapi ingat semua pasti ada resikonya. Dari penjelasan di atas dapat mimin simpulkan bahwa pada dasarnya jati dirinya orang jawa ialah sama dengan jati diri negara atau suku lainnya, karena memang sama-sama ciptaan yg maha kuasa Allah SWT. Dan bahkan buku petunjuk yg dimiliki orang jawa sama yaitu Al Qur’an. Cukup sudah sajian mengenai huruf jawa beserta artinya kali ini, semoga sajian kali ini dapat sangat berguna dan bermanfaat untuk kalian semua ya sob. Sekian dan terimakasih. ARTI & MAKNA HURUF JOWO Ha Hana hurip wening suci=Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci. Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara=Pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi. Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi= Arah dantujuan pada Yang Maha Tunggal Ra Rasaingsun handulusih = Rasa cinta sejati munculdari cinta kasih nurani Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana = Hasratdiarahkan untuk kesajetraan alam Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan =Menerima hidup apa adanya Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa = Mendasar,totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup Sa Sifat ingsun handulu sifatullah= Membentuk kasihsayang seperti kasih Tuhan Wa Wujud hana tan kena kinira = Ilmu manusiahanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas La Lir handaya paseban jati = Mengalirkan hidupsemata pada tuntunan Illahi Pa Papan kang tanpa kiblat = Hakekat Allah yangada disegala arah Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane = Untuk bisadiatas tentu dimulai dari dasar Ja Jumbuhing kawula lan Gusti = Selalu berusahamenyatu, memahami sifat dan kehendak- Nya Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi= Percaya dan Yakin atas titah / kodrat Illahi Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki =Memahami kodrat kehidupan Ma Madep mantep manembah mring Ilahi = Yakin/mantap dalam menyembah Ilahi Ga Guru sejati sing muruki = Belajar pada guru nurani Ba Bayu sejati kang andalani = Menyelaraskan diripada gerak alam Tha Tukul saka niat = Sesuatu harus dimulai dantumbuh dari niat yang suci Nga Ngracut busananing manungso = Melepaskanegoisme pribadi manusia. Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci -pengharapan manusia hanyaselalu ke sinar Illahi - satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal - rasa cinta sejati muncul dari cintakasih nurani - hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam - menerima hidup apa adanya - mendasar,totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup- membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan - ilmumanusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas - mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi - Hakekat Allah yang ada disegala arah- Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar - selalu berusaha menyatu, memahami sifat dan kehendak Nya – percaya dan yakin atas titah / kodrat Illahi -memahami kodrat kehidupan - yakin / mantap dalam menyembah Ilahi - belajar pada guru nurani -menyelaraskan diri pada gerak alam - sesuatu harus dimulai - tumbuh dari niat yang suci - melepaskan egoisme pribadi manusia. Ilustrasi honocoroko. Foto Maulana Surya/ANTARA FOTOHonocoroko, yang juga dikenal dengan hanacaraka atau carakan merupakan huruf Jawa kuno yang termasuk ke dalam kelompok turunan aksara Brahmi. Honocoroko mengacu pada lima aksara pratama, yaitu dulu, honocoroko sering digunakan dalam penulisan kitab, naskah kuno, tembang-tembang Jawa, prasasti, atau sekadar surat menyurat. Huruf ini sudah diwariskan turun temurun dan masih dilestarikan sampai buku Makna Simbolik Legenda Aji Saka tulisan Slamet Riyadi, aksara honocoroko berkaitan erat dengan Aji Saka. Sosoknya dipercaya berhubungan dengan awal mula munculnya aksara Jawa atau legenda, aksara honocoroko diciptakan Prabu Aji Saka saat dirinya pergi ke Makkah untuk berguru kepada Nabi Muhammad. Dalam pertemuan itu, ia diminta menciptakan aksara sebagai perbandingan aksara Arab. Aji Saka lalu menciptakan aksara ho-no-co-ro-ko yang berjumlah HonocorokoIlustrasi aksara Jawa. Foto Instagram/bagolleolAkik Hidayat dan Rahmi Nur Shofa dalam jurnal Self Organizing Maps SOM Suatu Metode untuk Pengenalan Aksara Jawa menjelaskan, pada bentuknya yang asli, honocoroko sejatinya ditulis menggunting di bawah garis, seperti aksara Hindi. Namun dalam perkembangannya, pengajaran modern saat ini menuliskannya di atas garis. Honocoroko terdiri dari 20 aksara, yaituAksara Jawa tersebut terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Berikut di antaranyaAksara ngalegena, merupakan aksara dasar yang masih murni, belum ditambah dengan pasangan dan jenis aksara merupakan aksara yang berfungsi menutup bunyi vokal di depannya. Setiap aksara memiliki pasangannya murda, yaitu aksara yang digunakan untuk menulis awal kalimat. Aksara ini juga bisa digunakan untuk menulis gelar, lembaga, dan kota. Aksara murda terdiri dari delapan swara, yaitu huruf vokal yang terdiri dari a, e, i, o, dan wilangan, merupakan aksara yang berfungsi untuk menuliskan yaitu aksara pelengkap yang dipakai sebagai pengatur jenis aksara Jawa di atas, honocoroko juga memiliki beberapa huruf khusus, tanda baca, serta pengatur tata penulisan. Semua huruf tersebut perlu dipahami dengan baik untuk menghasilkan tulisan aksara Jawa yang HonocorokoMenulis aksara Jawa. Foto Mohammad Ayudha/AntaraSeperti yang disebutkan, honocoroko mengacu pada lima aksara pertama dalam bahasa Jawa, yakni ho-no-co-ro-ko. Kelima aksara tersebut memiliki filosofi yang dipegang teguh oleh mayoritas masyarakat buku Memoar Romantika Probosutedjo oleh Alberthiene Endah, “Ho” dalam honocoroko berarti hidup, dan “No” berarti nglegeno atau polos. Jadi, ho-no bermakna ada kehidupan yang masih suci dan polos. Itu adalah hakikat manusia saat “Co” mengandung arti cipto atau pemikiran, “Ro” bermakna roso atau perasaan, dan “Ko” bermakna karso atau kehendak dan nafsu-nafsu manusia. Itu mengandung makana bahwa pada hakikatnya, kehidupan manusia berporos pada tiga hal tersebut. Jika bisa mengendalikannya, kehidupan akan berjalan lancar. Sebaliknya, kehidupan menjadi kacau jika ketiga hal itu tidak bisa dikendalikan dengan itu honocoroko?Huruf hanacaraka ada berapa?Siapa yang menciptakan aksara Jawa? makno aksoro’; HA hurip hidup NA legeno telanjang CA cipta pemikiran, ide ataupun kreatifitas RA rasa perasaan, qolbu, suara hati atau hati nurani KA karya bekerja atau pekerjaan atau di lahirkan. Manusia ” dihidupkan ” dalam keadaan telanjang akan tetapi manusia memiliki cipta rasa karsa, otak yang mengkreasi cipta’, hati yang mempunyai fungsi kontrol dalam bentuk rasa serta raga / tubuh / badan yang bertindak sebagai pelaksana. DA dada TA tata atur SA saka tiang penyangga WA weruh melihat LA lakuning makna kehidupan, urip. Dengarkanlah suara hati nurani yang ada di dalam dada, agar bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga saka sehingga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya. PADHAJAYANYA sama kuat pada dasarnya / awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama kuat , yaitu potensi melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan. MA sukma ruh, nyawa GA raga badan, jasmani BA-THA bathang, mayat NGA lunga, pergi meskipun dengan kehebatan cipta, rasa, karsa, entah kita baik atau jahat akhirnya ruh / nyawa pasti suatu saat akan kembali ke penciptanya; sehinga manusia harus bisa mempersiapkan diri. 1. Ha Hananira sejatine wahananing Hyang. Adanya pada hakekatnya adalah pendukung Hyang …. wujud atau kebenaran. 2. Na Nadyan ora kasad mata pasti ana. Meskipun tidak nampak oleh mata, tetapi ia pasti ada. 3. Ca Careming Hyang yekti tan ceta wineca. Nikmatnya Hyang yang sesungguhnya tak dapat diuraikan dengan jelasmempergunakan kata-kata. Karena tak ada sesuatu yang menyerupai Hyang. 4. Ra Rasakena rakete lan angganira. Rasakanlah eratnya dengan badanmu. 5. Ka Kawruhanan jiwa kongsi kurang weweka. Ketahuan dari jiwa jika kurang diusahakan. 6. Da Dadi sasar yen sira nora waspada. Jika tidak waspada kau akan menjadi sesat. 7. Ta Tamatna prabaning Hyang Sing Sasmita. Perhatikanlah cahaya Hyang yang memberikan isyarat. 8. Sa Sasmitane kang kongsi bisa karasa. Isyarat yang sampai dapat dirasakan. 9. Wa Waspadalah wewadi kang sira gawa. Lihatlah dengan seksama sifat batin sesungguhnya yang anda bawa. 10. La Lalekna yen sira tumekeng lalis. Lupakanlah pada waktu anda sampai pada kematian. 11. Pa Patisasar tan wus manggyapapa. Kematian sesat yang tak sampai pada tujuan akan menjumpai kesengsaraan. 12. Dha Dhasar beda lan kang wus kalis ing godha. Pada dasarnya berbeda dengan orang yang telah tak terpengaruh oleh godaan. 13. Ja Jangkane mung jenak jemjeming jiwaraga. Rencana tindakannya, hanya tahan tenteram didalam kebesaran jiwa. 14. Ya Yatnanana liyep luyuting pralaya. Lihatlah dalam keadaan lupa-lupa ingat mengaburnya pralaya/kematian. 15. Nya Nyata sonya nyenyet lebeting kadonyan. Nyata bahwa sunyi senyap segala jejak keduniawian. 16. Ma Madyen ngalam perantunan aja samara. Ditengah “ngalam perantunan” janganlah ragu-ragu. 17. Ga Gayuhaning tanaliyan jung sarwa arga. Tak ada lain yang hendak dicapai kecuali segala “gunung” atau “jamuan”. 18. Ba Bali murba wisesa ing njero njaba. Kembali mengatur menguasai segi luar dan dalam. 19. Tha Thukulane widadarja tebah nistha. Tumbuhnya kekuatan hukum menembus kerendahan/kehinaan. 20. Nga Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat. Berhati-hati dalam merencanakan pengaturan-mengatur mengenai 20 petunjuk “aksara” – dari serat sastra gending; Karya Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma. 1. Bahasa Jawa. “Kawuri pangertine Hyang, taduhira sastra kalawan gending, sokur yen wus sami rujuk nadyan aksara jawa, datan kari saking gending asalipun, gending wit purbaning kala, kadya kang wus kocap pinuji”. Bahasa Indonesia. “Pemusatan diri pada Hyang, petunjuknya berupa sastra syariat dan bunyi gending Manipat. Jika telah disepakati bersama, meskipun aksara jiwa tidak meninggalkan bunyi gending asalnya, bunyi gending sejak jaman purbakala, seperti yang telah diucapkan terdahulu.” 2. Bahasa Jawa “Kadya sastra kalidasa, wit pangestu tuduh kareping puji, puji asaling tumuwuh, mirit sang akadiyat, ponang Ha na ca ra ka pituduhipun, dene kang da ta sa wa la; kagetyan ingkang pinuji”. Bahasa Indonesia “Seperti halnya sastra aksara jawa yang dua puluh adalah sebagai pemula untuk mencapai kebenaran, yang mempatkan petunjuk akan makna puji, serta puji kepada segala sumber yang tumbuh atau hidup; memberikan mirit ajaran akadiyat berupa ha na ca ra ka, petunjuknya. Sedang da ta sa wa la, adalah berarti kepada kepada Tuhan yang dipuji”. 3. Bahasa Jawa. “Wadat jati kang rinasan, ponang pa da ja ya nya; angyekteni, kang tuduh lan kang tinuduh, pada santosanira, wahanane wakhadiyat pembilipun, dene kang ma ga ba ta nga, wus kenyatan jatining sir” Bahasa Indonesia “Wadat jati yang dirasakan berupa pa da ja ya nya; adalah yang menyaksikan bahwa yang memberi dan yang diberi petunjuk adalah sama teguhnya; tujuannya adalah mendukung dan akhadiyat, sedang ma ga ba ta nga berarti sudah menjadi nyata keadaan sir yang sejati?’. 4. Bahasa Jawa. “Pratandane Manikmaya, wus kenyatan kawruh arah sayekti, iku wus akiring tuduh, Manikmaya an taya, kumpuling tyas alam arwah pambilipun, iku witing ana akal, akire Hyang Maha Manik”. Bahasa Indonesia. “Tanda daripada Manikmaya terlihat juga sudah nyata pengetahuan akan tujuan yang sesungguhnya, itulah akhir dari pada petunjuk; Manik Maya adalah Tiada/Taya suwung yaitu bersatunya hati dengan alam arwah; itulah saat mulanya ada akal, dan adalah akhir dari pada Hyang Maha Manik”. 5. Bahasa Jawa. “Awale Hyang Manikmaya, gaibe tan kena winoring tulis, tan arah gon tan dunung, tan pesti akir awal, manembahing manuksmeng rasa pandulu, rajem lir hudaya retna, trus wening datanpa tepi”. Bahasa Indonesia. “Kegaiban dari awal Hyang Manikmaya tak dapat diramu atau diungkap dengan tulisan, tiada awal dan tiada tempat, tiada arah dan tiada akhir; sembahnya dengan melebur ke dalam rasa penglihatan, bersifat tajam bagaikan pucuk manikam, jernih tembus tak bertepi”. 6. Bahasa Jawa. “Iku telenging paningal, surah sane kang sastra kalih desi, lan mirit sipati rong puluh, sipat kahananing dat, ponang akan durung ana ananipun kababaring gending akal, Manikmaya wus kang ngelmi”. Bahasa Indonesia “Itulah pusat penglihatan, makna daripada dua puluh aksara, dan juga mengajarkan sifat dua puluh, sifat keadaan Dat, ketika akal belum mengada ada terurai dalam kata-kata yang menyatakan akal, Manikmaya itulah Ngelmi”.. Arti Ho No Co Ro Ko Sejatinya, jati diri semua manusia pada dasarnya adalah sama. Ya cuma kelihatannya saja berbeda-beda. Jati dirinnya manusia tumrap orang Jawa yaitu Ho No Co Ro Ko. Do To So Wo Lo. Po Dho Jo Yo Nyo. Mo Go Bo Tho Ngo. Huruf-huruf jawa yang jumlahnya ada 20 buah huruf itu bukanlah tiada artinya, namun sebaliknya, penuh banyak arti dan makna. Berikut ini penjelan dan makna huruf Jawa tersebut. 1. Makna Ho No Co Ro Ko. Arti bahasa Jawa adalah Ono Utusan. Arti dalam bahasa Indonesia adalah Ada Utusan. Maknanya Setiap orang itu harus merasa bahwa dirinya adalah utusan Allah SWT, yaitu Khalifah Fil Ardhi, menjadi khalifah di muka bumi ini. 2. Makna Do To So Wo Lo. Arti dalam Bahasa Jawa adalah data utowo anane bedo-bedo. Arti bahasa Indonesian adalah Keberadaannya tidak Sama alias beda-beda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Dibagi menjadi 2 makna, yaitu Orangnya sama tapi Beda datanya. Misalnya saja kalau orang Jepang dahulu pendek-pendek, sekarang sudah bertubuh tinggi-tinggi, kalau dahulu wanita dalam berdandan memakai sewek atau jarik sekarang sudah memakai celana. Kemampuannya tidak sama. 3. Makna Po Do Jo Yo Nyo. Arti dalam Bahasa Jawa adalah Senajan kahanane bedo-bedo nanging podho joyone. Arti dalam Bahasa Indonesia adalah Meskipun beda keahlian atau pekerjaan namun semua bisa saja berjaya. 4. Makna Mo Go Bo Tho Ngo. Arti bahasa Jawa adalah Monggo Sak Kerso. Arti dalam Bahasa Indoensia adalah Terserah mana yang akan dilakukan. Tapi ingat, semua pasti ada resikonya. Tuh kan, huruf Jawa yang sering kita dengar itu ternyata sangat identik sekali dengan Al Qur’an atau mungkin kitab suci yang lain. Wallahu A’lam. Jadi, jati dirinya orang Jawa harusnya juga sama dengan jati diri negara atau suku lain karena wong sing nitahke yoiku Aloh SWT, dan buku petunjuknya juga sama yoiku Al Qur’an. Kalau masih belum begitu, ya mungkin itu masih dalam proses. Anda mungkin juga meminati Ho No Co Ro Ko Banyaknya dan Arti Huruf Jawa Kamus Kecik Narapraja Arti Kembang Sepasang Arti Pathet dan Wilet makno aksoro’; HA hurip hidup NA legeno telanjang CA cipta pemikiran, ide ataupun kreatifitas RA rasa perasaan, qolbu, suara hati atau hati nurani KA karya bekerja atau pekerjaan atau di lahirkan. Manusia ” dihidupkan ” dalam keadaan telanjang akan tetapi manusia memiliki cipta rasa karsa, otak yang mengkreasi cipta’, hati yang mempunyai fungsi kontrol dalam bentuk rasa serta raga / tubuh / badan yang bertindak sebagai pelaksana. DA dada TA tata atur SA saka tiang penyangga WA weruh melihat LA lakuning makna kehidupan, urip. Dengarkanlah suara hati nurani yang ada di dalam dada, agar bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga saka sehingga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya. PADHAJAYANYA sama kuat pada dasarnya / awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama kuat , yaitu potensi melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan. MA sukma ruh, nyawa GA raga badan, jasmani BA-THA bathang, mayat NGA lunga, pergi meskipun dengan kehebatan cipta, rasa, karsa, entah kita baik atau jahat akhirnya ruh / nyawa pasti suatu saat akan kembali ke penciptanya; sehinga manusia harus bisa mempersiapkan diri. 1. Ha Hananira sejatine wahananing Hyang. Adanya pada hakekatnya adalah pendukung Hyang …. wujud atau kebenaran. 2. Na Nadyan ora kasad mata pasti ana. Meskipun tidak nampak oleh mata, tetapi ia pasti ada. 3. Ca Careming Hyang yekti tan ceta wineca. Nikmatnya Hyang yang sesungguhnya tak dapat diuraikan dengan jelasmempergunakan kata-kata. Karena tak ada sesuatu yang menyerupai Hyang. 4. Ra Rasakena rakete lan angganira. Rasakanlah eratnya dengan badanmu. 5. Ka Kawruhanan jiwa kongsi kurang weweka. Ketahuan dari jiwa jika kurang diusahakan. 6. Da Dadi sasar yen sira nora waspada. Jika tidak waspada kau akan menjadi sesat. 7. Ta Tamatna prabaning Hyang Sing Sasmita. Perhatikanlah cahaya Hyang yang memberikan isyarat. 8. Sa Sasmitane kang kongsi bisa karasa. Isyarat yang sampai dapat dirasakan. 9. Wa Waspadalah wewadi kang sira gawa. Lihatlah dengan seksama sifat batin sesungguhnya yang anda bawa. 10. La Lalekna yen sira tumekeng lalis. Lupakanlah pada waktu anda sampai pada kematian. 11. Pa Patisasar tan wus manggyapapa. Kematian sesat yang tak sampai pada tujuan akan menjumpai kesengsaraan. 12. Dha Dhasar beda lan kang wus kalis ing godha. Pada dasarnya berbeda dengan orang yang telah tak terpengaruh oleh godaan. 13. Ja Jangkane mung jenak jemjeming jiwaraga. Rencana tindakannya, hanya tahan tenteram didalam kebesaran jiwa. 14. Ya Yatnanana liyep luyuting pralaya. Lihatlah dalam keadaan lupa-lupa ingat mengaburnya pralaya/kematian. 15. Nya Nyata sonya nyenyet lebeting kadonyan. Nyata bahwa sunyi senyap segala jejak keduniawian. 16. Ma Madyen ngalam perantunan aja samara. Ditengah “ngalam perantunan” janganlah ragu-ragu. 17. Ga Gayuhaning tanaliyan jung sarwa arga. Tak ada lain yang hendak dicapai kecuali segala “gunung” atau “jamuan”. 18. Ba Bali murba wisesa ing njero njaba. Kembali mengatur menguasai segi luar dan dalam. 19. Tha Thukulane widadarja tebah nistha. Tumbuhnya kekuatan hukum menembus kerendahan/kehinaan. 20. Nga Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat. Berhati-hati dalam merencanakan pengaturan-mengatur mengenai 20 petunjuk “aksara” – dari serat sastra gending; Karya Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma. 1. Bahasa Jawa. “Kawuri pangertine Hyang, taduhira sastra kalawan gending, sokur yen wus sami rujuk nadyan aksara jawa, datan kari saking gending asalipun, gending wit purbaning kala, kadya kang wus kocap pinuji”. Bahasa Indonesia. “Pemusatan diri pada Hyang, petunjuknya berupa sastra syariat dan bunyi gending Manipat. Jika telah disepakati bersama, meskipun aksara jiwa tidak meninggalkan bunyi gending asalnya, bunyi gending sejak jaman purbakala, seperti yang telah diucapkan terdahulu.” 2. Bahasa Jawa “Kadya sastra kalidasa, wit pangestu tuduh kareping puji, puji asaling tumuwuh, mirit sang akadiyat, ponang Ha na ca ra ka pituduhipun, dene kang da ta sa wa la; kagetyan ingkang pinuji”. Bahasa Indonesia “Seperti halnya sastra aksara jawa yang dua puluh adalah sebagai pemula untuk mencapai kebenaran, yang mempatkan petunjuk akan makna puji, serta puji kepada segala sumber yang tumbuh atau hidup; memberikan mirit ajaran akadiyat berupa ha na ca ra ka, petunjuknya. Sedang da ta sa wa la, adalah berarti kepada kepada Tuhan yang dipuji”. 3. Bahasa Jawa. “Wadat jati kang rinasan, ponang pa da ja ya nya; angyekteni, kang tuduh lan kang tinuduh, pada santosanira, wahanane wakhadiyat pembilipun, dene kang ma ga ba ta nga, wus kenyatan jatining sir” Bahasa Indonesia “Wadat jati yang dirasakan berupa pa da ja ya nya; adalah yang menyaksikan bahwa yang memberi dan yang diberi petunjuk adalah sama teguhnya; tujuannya adalah mendukung dan akhadiyat, sedang ma ga ba ta nga berarti sudah menjadi nyata keadaan sir yang sejati?’. 4. Bahasa Jawa. “Pratandane Manikmaya, wus kenyatan kawruh arah sayekti, iku wus akiring tuduh, Manikmaya an taya, kumpuling tyas alam arwah pambilipun, iku witing ana akal, akire Hyang Maha Manik”. Bahasa Indonesia. “Tanda daripada Manikmaya terlihat juga sudah nyata pengetahuan akan tujuan yang sesungguhnya, itulah akhir dari pada petunjuk; Manik Maya adalah Tiada/Taya suwung yaitu bersatunya hati dengan alam arwah; itulah saat mulanya ada akal, dan adalah akhir dari pada Hyang Maha Manik”. 5. Bahasa Jawa. “Awale Hyang Manikmaya, gaibe tan kena winoring tulis, tan arah gon tan dunung, tan pesti akir awal, manembahing manuksmeng rasa pandulu, rajem lir hudaya retna, trus wening datanpa tepi”. Bahasa Indonesia. “Kegaiban dari awal Hyang Manikmaya tak dapat diramu atau diungkap dengan tulisan, tiada awal dan tiada tempat, tiada arah dan tiada akhir; sembahnya dengan melebur ke dalam rasa penglihatan, bersifat tajam bagaikan pucuk manikam, jernih tembus tak bertepi”. 6. Bahasa Jawa. “Iku telenging paningal, surah sane kang sastra kalih desi, lan mirit sipati rong puluh, sipat kahananing dat, ponang akan durung ana ananipun kababaring gending akal, Manikmaya wus kang ngelmi”. Bahasa Indonesia “Itulah pusat penglihatan, makna daripada dua puluh aksara, dan juga mengajarkan sifat dua puluh, sifat keadaan Dat, ketika akal belum mengada ada terurai dalam kata-kata yang menyatakan akal, Manikmaya itulah Ngelmi”.. Arti Ho No Co Ro Ko Sejatinya, jati diri semua manusia pada dasarnya adalah sama. Ya cuma kelihatannya saja berbeda-beda. Jati dirinnya manusia tumrap orang Jawa yaitu Ho No Co Ro Ko. Do To So Wo Lo. Po Dho Jo Yo Nyo. Mo Go Bo Tho Ngo. Huruf-huruf jawa yang jumlahnya ada 20 buah huruf itu bukanlah tiada artinya, namun sebaliknya, penuh banyak arti dan makna. Berikut ini penjelan dan makna huruf Jawa tersebut. 1. Makna Ho No Co Ro Ko. Arti bahasa Jawa adalah Ono Utusan. Arti dalam bahasa Indonesia adalah Ada Utusan. Maknanya Setiap orang itu harus merasa bahwa dirinya adalah utusan Allah SWT, yaitu Khalifah Fil Ardhi, menjadi khalifah di muka bumi ini. 2. Makna Do To So Wo Lo. Arti dalam Bahasa Jawa adalah data utowo anane bedo-bedo. Arti bahasa Indonesian adalah Keberadaannya tidak Sama alias beda-beda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Dibagi menjadi 2 makna, yaitu Orangnya sama tapi Beda datanya. Misalnya saja kalau orang Jepang dahulu pendek-pendek, sekarang sudah bertubuh tinggi-tinggi, kalau dahulu wanita dalam berdandan memakai sewek atau jarik sekarang sudah memakai celana. Kemampuannya tidak sama. 3. Makna Po Do Jo Yo Nyo. Arti dalam Bahasa Jawa adalah Senajan kahanane bedo-bedo nanging podho joyone. Arti dalam Bahasa Indonesia adalah Meskipun beda keahlian atau pekerjaan namun semua bisa saja berjaya. 4. Makna Mo Go Bo Tho Ngo. Arti bahasa Jawa adalah Monggo Sak Kerso. Arti dalam Bahasa Indoensia adalah Terserah mana yang akan dilakukan. Tapi ingat, semua pasti ada resikonya. Tuh kan, huruf Jawa yang sering kita dengar itu ternyata sangat identik sekali dengan Al Qur’an atau mungkin kitab suci yang lain. Wallahu A’lam. Jadi, jati dirinya orang Jawa harusnya juga sama dengan jati diri negara atau suku lain karena wong sing nitahke yoiku Alloh SWT, dan buku petunjuknya juga sama yoiku Al Qur’an. Kalau masih belum begitu, ya mungkin itu masih dalam proses.

ho no co ro ko terbalik